Keras

Desember 23, 2007

Rona mengangkat kakinya duduk diatas kursi teras depan, walaupun pagar rumahnya terbuat dari tanaman rambat dan menutupi hampir semua kayu tonggak pancang yang ada tapi dia masih bisa melihat orang yang hilir mudik di depan rumahnya. Beberapa kali dia melihat orang melintas bergegas seperti sedang di buru oleh waktu. Ada sedikit murung yang berkelebat di matanya hari itu. Ia memeluk kedua lututnya untuk didekatkan ke dadanya yang bergemuruh tak henti-henti sedari tadi. Beberapa penggal percakapannya dengan mak tadi sudah terlalu tajam menusuk dan meninggalkan nyeri yang belum hilang sampai sekarang.

“Saya rasa kau takkan membiarkan dirimu melajang seumur hidup kan?”

“Nggak tau lah mak, aku belum lagi berniat untuk mencari jodoh”

“Umur kau dah 27 tahun dah ni 3 bulan lagi dah 28 pulak, jadi mau kapan lagi?”

“Mak ndakkan ngerti”

Sedikit pelan suara rona yang keluar kali ini. Melawan orang tua adalah pantangan terbesar yang ia harus hindari jika tak ingin mengalami nasib sial di kubur dengan penuh belatung dan ulat di sekujur tubuh. Bayangan kuburan yang tiba-tiba mengecil dan angin bertiup dengan keras menjatuhkan keranda hingga mayat tergeletak di tanah. Sekujur tubuhnya merinding membayang kan beberapa kejadian mengerikan yang biasa ia baca di majalah serial tobat itu.

“Mak ngerti nak, mak ngerti”. Suara mak telah jauh melemah kali ini, tangannya pun sedikit membelai rambut rona yang panjang tergerai sebahu.

“Tapi orang kampung belum tahu lagi mau seperti mak, dah banyak kudengar gunjingan tentang kau di mesjid belakangan ini”

“Cobalah buka hati kau sedikit untuk laki-laki lain, yah nak!”

…….

“Atau kau mau aku mencarikannya untuk mu?”

“Terserah mak lah.”

Tiba-tiba sepintas dilihatnya sosok orang yang telah bebera tahun ini mengisi lamunannya melintas di depan rumahnya. Tapi sosok itu tak sendirian ada seorang wanita disampingnya sedang menggendong bayi yang sedang menangis. Kedua pasangan itu berjalan seperti terburu-buru sekali. Hal ini terdengar dari bunyi gesekan alas kaki bergeser dengan batu jalan di depan rumahnya itu.

Rona sedikit melompat mendekati pagar halaman rumah guna memastikan siapa yang lewat barusan. Pasangan itu telah membelok ketikungan sehabis rumahnya ini, tapi dia masih sempat sedikit melihat bentuk wajah laki-laki yang berjalan tertunduk itu memegang bahu istrinya membimbing menyeberang jalan. tak sampai semenit rona berlarian menghambur ke dalam rumahnya sambil menutupi mulutnya. Tak sedikitpun langkahnya tertahan oleh baju yang panjang sampai kelutut itu. Tak berapa lama terdengar bunyi suara pintu di banting di susul suara tangis yang tertahan oleh bantal.

Azan subuh belum lagi berkumandang ketika mak melihat Rona akhirnya keluar kamar dengan mata yang bengkak dan bewarna merah.

“Mau kemana?” tanya mak

“Ke mesjid mak, subuh”

“Ya sudah, jangan lupa pulang cepat-cepat, bantu aku masak”.

Rona tak harus menurunkan mukena yang ia tenteng untuk mencium tangan maknya itu, untuk kemudian melangkah ke pintu menuju mesjid.

Beberapa hari setelah peristiwa itu Rona sangat rajin sekali mengaji, hampir tiap malam sabtu maknya mendengar suara ngaji tak berhenti selama beberapa jam. Tiap selesai waktu-waktu sholat selalu terdengar surat Yasin mengalun pelan dari kamar rona. Baru-baru ini orang tua itu menyadari ternyata anaknya tak pernah lagi makan siang setiap hari senin dan kamis.

Azan magrib baru saja berkumandang dari speaker masjid di ujung jalan, walaupun suaranya sedikit serak dan putus-putus tapi cukup keras untuk di dengar oleh seisi kampung. Rona baru saja menghabiskan teh panas dan 2 butir goreng pisang yang dia masak sendiri tadi sore.

“Dah kau dapat calon suamimu Rona?”

“Belum lagi mak”

“Tak kan mungkin tak ada yang mau ma kau rona, muka kau tak jelek-jelek kali kan?”

“Baju kali kau barangkali?”

“Besok kau pergilah ajak Novi beli baju ke pasar, kau ambil duit di dompet belakang baju-baju mak di lemari!”

“Ya mak”

“Kalau perlu, pergi ke salon!”

“Ya mak”

Sekitar pukul 4 petang Rona melangkahkan kaki ke teras halaman rumah, rambutnya tinggal seleher sekarang celana jeans dengan bawah mengecil sedikit ketat itu membentuk kakinya dengan sangat indah, baju kaos berkerah lebar memperlihatkan tali BH hitam yang mengikat di bahunya.

“hey knapa kau ni?” tanya mak dengan nada yang sedikit keras

“kata orang salon ini model terbaru mak”

“ah tak ngerti aku” kata mak sambil melangkah pergi membawa kaleng kerupuk ke warung yang dibangunnya beberapa minggu yang lalu dengan menjual perhiasan peninggalan bapak.

Sudah beberapa bulan berselang sejak kejadian itu, kini Rona tak pernah lagi kelihatan ke mesjid dan setiap hari senin ataupun kamis tak pernah lagi tersedia goreng pisang di atas meja makan. Bahkan sudh hampir seminggu ini mak tak melihat Rona keluar rumah satu kalipun. Orang tua itu lalu menghampiri kamar yang berhorden hijau itu, pintu kamar itu tak tertutup sehingga tak menghalangi langkahnya untuk masuk ke dalam.

“Sebentar lagi umur kau nambah lagi Rona”

“Kalu tak salah hitung 5 bulan lagi kau sudah 28”

“Iya mak”

“Dah kau dapat calon suami mu tu?”

“Belum mak”

“Hah?” sedikit menaikkan suara mak duduk di kasur yang sedang di tiduri oleh Rona

“Danu, Erwin, Herman, Dadan juga tak pernah lagi kulihat beberapa tahun ini, kenapa tak kau ajak salah seorang diantar mereka untuk kawin?”

“Mereka udah pada kawin mak. lagipula mereka kan teman, bukan pacar ku.” Jawab Rona sambil beranjak ke luar kamar.

“Besok kau pergi kerumah wak Abur, minta limau buat mandi. Bilang mak nyuruh kau cepat2 kawin!” teriak mak melihat Rona yang hendak lari ke dapur.

Di sudut kampung agak kedalam dan sedikit terpisah dari rumah-rumah lain rumah wak Abur sedikit kelihatan menyeramkan, bangunan dari kayu itu terlihat gelap sekali walupun hari belum lagi begitu petang. Lampu minyak di Tiang sudut sebelah kanan rumah itu membuat tanda hitam memanjang keatas. Walaupun masih mempunyai sedikit hubungan saudara dari ayah Rona tak pernah lagi mendatangi rumah ini sejak waknya itu diisyukan berguru ke gunung salak. Belum sempat Rona naik ke teras rumah pintu depan telah di buka oleh orang tua yang tak mengenakan baju hanya menggunakan sarung dengan memegang sebatang rokok lintingan yang menimbulkan aroma yang tidak sedap ke hidungnya.

“Ini Limau yang kau minta, cari 7 macam bunga yang biasa dipakai untuk penganten mandi campurkan lalu madi dengan itu selama 7 hari”. Kata orang tua itu tanpa sempat Rona mengutarakan maksudnya.

Laki-laki tua tapi masih sedikit tegap namun kelihatan angker dengan kumisnya yang tebal dan matanya yang tajam itu lalu melangkah memutar masuk kembali ke dalam rumah, seakan tak peduli dengan kebingungan Rona ia menutup pintu dan menguncinya.

“Jangan lupa suruh Mak mu melemparkan Emas ke dalam sumurku, untuk syarat. Dia harusnya sudah hapal dengan syarat itu”. Teriak orang tua itu dari dalam tanpa membuka pintu.

Sedikit secercah harapan terpampang jelas di mata Rona hari itu, sebenarnya dia juga sangat merisaukan kenapa dirinya tak juga mempunyai jodoh sampai saat ini, padahal dia termasuk wanita yang menjadi kembang di desanya ini. Tapi mungkin dia memang sedikit terlambat untuk membuka diri setelah berumur segini, dikampungnya perempuan dengan umur rata-rata 25 tahun pasti sudah memiliki seorang anak atau lebih. Dia tadinya hanya mencoba setia dengan janji yang diucapkan bersama pujaan hati yang ternyata telah menodainya dengan janji palsu. Sedikit mempercepat langkahnya Rona seperti berlari di kejar oleh waktu.

Mak sudah sering sakit-sakitan, telah beberapa orang pintar yang sudah di coba oleh kedua orang tersebut. Dari kyai. Danulangsa, wak jarot, mbah luwi, mandi di danau, sampai puasa 30 hari sudah dilakukan Rona. Namun jodohnya masih juga belum mau datang. Sementara mak sudah beberapa hari terbaring tak bisa bergerak dan batuknya itu benar-benar membuat dada Rona sesak. Padahal mak belum lagi mati, namun ia sudah mulai bisa merasa kesepian hidup sendiri. Beberapa hari kemudian kesehatan mak semakin parah sementara harta sudah habis dipakai untuk membeli syarat persembahan. Di pagi-pagi buta saat Rona masih memejamkan matanya di pinggir tempat tidur reyot itu mak memutuskan untuk meninggalkan Rona sendirian.

Dengan terisak-isak dan air mata yang tak pernah mau berhenti mengalir Rona menemani orang kampung menguburkan mak di ujung kampung. Tak seberapa jauh memang dari rumahnya tapi arahnya berlawanan dengan jalan besar yang di lewati truk-truk besar pengangkut kelapa sawit. Tak seberapa banyak yang diingatnya tentang upacara penguburan itu, kepalanya terlalu pusing matanya terlalu kabur untuk melihat tanah merah itu mulai menutupi lubang kuburan dan menandainya dengan papan bertuliskan nama mak diatasnya. Beberapa orang wanita membantu memopong bandannya yang tersa sangat berat sekali hari itu.

Hari ini Rona memutuskan untuk menerima tawaran Tante Juli untuk bekerja di warung pinggir jalan raya besar miliknya sebagai pelayan. Hidup sendirian tanpa penghasilan tetap terlalu berat rasanya untuk ditanggung sendirian. Hidup bersama orang-orang yang sering ia lihat tertawa keras diantara suara musik yang ngebass itu sepertinya sedikit menjanjikan kegembiraan.

Iklan

33 Tanggapan to “Keras”

  1. bedh Says:

    ini adalah cerpen pertama dan terakhir yang pernah saya tulis, setelah ini tak akan adalagi cerpen2 lain. tulisan ini hanya bentuk penghinaan diri karna ketidak mampuan dan kebodohan. tulisan ini tidak diedit dengan benar sengaja begitu biar aku yakin ini tulisan aku. kalau ada kemiripan dan kata-kata yang digunakan dengan sangat menyesal aku akui nggak bisa apa-apa soal itu.
    seandainya dengan tulisan ini kelihatan jelas kebodohan ku dalam menulis memang begitulah niatnya dari awal.

  2. qzink666 Says:

    Keren, bro, cerpennya..
    Eh, Rona itu bedh sebelum operasi kelamin bukan?
    *ditendang sampai warung remang2*


  3. Hmmm, cerpen-nya menarik bro 😉
    Mewakili keresahan orang-orang yang galau oleh dilema antara kebutuhan, hati, nasib…

    Btw, kenapa hanya ber-henti sampai di-sini bro, terus-lah meng-hasil-kan cerpen-cerpen baru, karena untuk cerpen ini, sudah menarik, hanya mungkin alur cerita-nya saja yang agak tidak ber-atur-an plus ada sedikit kesilafan tentang umur. Di-awal di-cerita-kan 3 bulan lagi, tapi di pertengahan 5 bulan lagi sebelum umur 28.

  4. caplang™ Says:

    saya malah belom bisa bikin tulisan panjang seperti ini
    lha ini bedh malah mo brenti??

  5. bedh Says:

    •Qzink666
    huhuhu rona itu wanita bukan bayut seperti mu

    •Extremusmilitis
    thx bro, aku sedikit tersiksa menulis dengan bahasa yang dibuat2 seakan resmi ini. Dan aku tak punya bakat wat jadi penulis cerpen. Tadinya cuma sekedar mencoba yg belum pernah aku kerjakan. mencoba bermain dengan imajinasi dan bukan kenyataan seperti biasanya. Ternyata tidak menyengkan sama sekali.
    Banyak kesalahan memang, seharusnya yang di tengah ITU umurnya sudah Akan 29 atau 30 tahun huhuhu tapi biar ajalah begitu gak usah di ganti.
    thx.

    •Caplang
    huhuhu iyanih gak seru ternyata, saya jadi tukang baca cerpen aja. Yang nulis biar orang lain. Huhuhu

  6. icha Says:

    keren…kenapa gak coba bikin buku bedh????

  7. bacteria Says:

    keren nih cerita…

  8. kurtubi Says:

    Yahut enak dibaca dan mengalir apa adanya…
    Dilemanya juga terasa benar hingga akhir cerita… menyisakan masalah berawal dari masalah berakhir masalah.. sebuah pragmatisme kehidupan? 🙂

    Eh berbakat bro… bikin seperti ini terkecuali kalau memang harapannya membuat cerpan sekelas Cerpenis sejati yaa mungkin tulisan ini belum masuk… saya bahkan belum mencobanya…

  9. dodot Says:

    kapan dibukuin, kayak pak JaF tuch sampai bukunya nongkrong di kick andy, nice story, it’s awsome

    ————–
    bedh:
    blognya gi error yah? saya tadi coba akses ke readmore kok nggak isa?

  10. iNyoNk Says:

    kapan kawin?
    may……
    may be yes may be no :mrgreen:
    sungguh keren bro…
    *sepakat dengan brader semua diatas, jangan patah semangat, bukukan ajah*

  11. bedh Says:

    •icha
    *gubrak*
    bikin buku?
    ada sih niat ikut bikin buku, tapi bukan buku cerpen. gw sedang ikut mensupport temen2 gw yang sedang membukukan karya2 mereka kedalam sebuah buku. karya2 art mereka sih sebenernya. ntar deh kalo dah selesai di kabari.
    lah sapa yang nanya?
    huhuhuhuhu

    •bacteria
    cerita tentang pola pikir yang sudah Tua dan kampungan.
    kalau punya keinginan mintalah ma Tuhan, kalau tak dikabulkan minta sama berhala, tak dikabulkan juga minta sama dukun, tak di kabulkan juga jadilah pelacur.

    idenya didapat dari seorang makhluk manis yang menyeramkan, yang sudah menggelitik saya dengan magical thing huhuhuhuu

    •kurtubi
    wah terimakasih pak sudah mau berbohong dengan mengatakan saya berbakat huhuhuhu
    canda pak. thx yah.

    bermain sering-sering dengan imajinasi saya pikir membuat seseorang jadi sangat sensitif dan memiliki perasaan yang sangat halus karna sering di asah. efeknya akan membuat seseorang menjadi peka cuma saya tidak suka efek sampingnya. semakin peka seseorang semakin cepat dia tersinggung. huhuhuhuuh
    cuma persepsi pribadi jadi belum tentu benar.

    silahkan mencoba pak, siap tau bapak suka….

    •dodot
    huhuhu huhuhuhu
    —-
    wah saya belum baca bukunya pak JaF. sepertinya bagus.

    •iNyoNk
    perkosa aja terus.
    huhuhuhu

  12. Sayap KU Says:

    hahahah, pengen ketawa baca comment yang punya blog … bagus koq cerpennya cuma kurang pas mengambil kata-katanya.

    -Ade-

  13. peyek Says:

    anak emak bernama rona, wah renyah cerpennya, apa adanya tentang realita kehidupan!

  14. tukangkopi Says:

    bedh, idenya dah bagus ini. cuma kok keknya belum selese ya? ada sekuelnya ndak? ayolah bedh, nulis cerpen lagi…

  15. hadi arr Says:

    cerita yang apa adanya, enak dibaca dan menarik,
    ditambahin dikit, kalau ada tokoh, cerita dan tempat kejadian yang sama harap maklum semata-mata karena kesengajaan. Muaranya itu lho yang teramat banyak terjadi.
    ditunggu sekuelnya!!!!!!!!!!

  16. may Says:

    hehehehehee
    secara saya ndak tau sastra, jadi aku ndak tau ini cerpen berkualitas ato engga.
    Tapi aku suka themanya, “menggigit”, apalagi bagian ini (aq jadi pengen buru2 print and nunjukin ke one of my pren) 😆 :

    Rona sangat rajin sekali mengaji, hampir tiap malam sabtu maknya mendengar suara ngaji tak berhenti selama beberapa jam. Tiap selesai waktu-waktu sholat selalu terdengar surat Yasin mengalun pelan dari kamar rona. Baru-baru ini orang tua itu menyadari ternyata anaknya tak pernah lagi makan siang setiap hari senin dan kamis.

    niat ibadahnya itu lho 😉
    (kayanya udang dibalik sambel sangat lah)

  17. ann!sha Says:

    Bet, manis nan menyeramkan itu kekna ga berpasangan deh. Apa tidak mungkin, makluk itu manis aja atau menyeramkan aja? Anyway, cerpen yang ‘keras’ namun beneran membuat aku me’rona’. Yang ini masih abu-abu. Ga masuk kategori happy ending juga ga bisa dikatakan sad ending apalagi tragic. Yang terbaca bukan ketidakmampuan atau kebodohan, tapi ke’tidakjelasan’ penulisnya … meminjam istilah komentar diatas, kekna belum selesai. Dan sepengetahuanku sih, ketidakmampuan atau kebodohan, termasuk kepintaran atau kehebatan, ga perlu dibuktikan, ntar pasti reveal itself kok .. Lagian, bukankah kamu ingin dikenal sebagai Halbet, bukan sebagai orang lain?

    Happy teething Bet! 😉

    Eh, apa mandi balimo plus 7 kembang itu juga berlaku buat laki-laki bujang yah? Sapa tau, kita bisa ‘mandi bareng’ hahahaha

  18. dodot Says:

    bedh, blog gua udah on sekarang, maklum tuh blog lagi demam, di padang hujan

  19. Hanna Says:

    Bedh, ternyata bedh memang bodoh…
    Masa cerpen sebagus ini dibilang biar kelihatan kebodohannya.
    Hu uh! sebel!

  20. Hanna Says:

    Bahasamu tersusun rapi, ngalir, enak dibaca. Itu yang benar Bedh.
    *tidak muji lho* hanya menulis kejujuran berdasarkan penilaian saya.

  21. Hanna Says:

    Bedh, kapan Ronanya baru mau nikah, waakakaka…
    Sampai akhirnya pun bedh tetap menjadikan Rona perawan tua. Tega sekali…

  22. bedh Says:

    mengutip perkataan seorang filsafat.

    “Tak harus ada comment untuk setiap comment, 😉 ”
    *gi males mode : ON*

  23. qzink666 Says:

    *atas gw*
    ngutip kata-katanya sapa tuuh? :mrgreen:

  24. bedh Says:

    *diantara gw*

    you’ll never know, huhuhuhu
    😆

  25. joyo Says:

    huhuhu…niru gaya bedh,
    bagus bro saya suka ronanya rona ketika menggenakan celana jeans ketat, aih… 😀

  26. Sayap KU Says:

    Baca lagi tulisan diatas … udah 5x nih.

    -Ade-

  27. Praditya Says:

    *baca komen zink*
    ngakak… 😆

    Jadi Rona gak kawin yah?
    Gmana dengan Bedh?

  28. akafuji Says:

    cerita bagus. dapat imagi dari mana nih? tq ya udh kunjungi blogku n kasih comment.

  29. Ina Says:

    Rona…oh Rona.

    keren..keren…!
    cuma kok jadi cerpen yang terakhir sech? khan sayang bakatnya.

  30. Nane Says:

    hmmm… pada akhirnya rona tetap menjadi perawan tua dan terus menerus harus menjalani kehidupan yang keras ini ya… huhu… menyedihkan sekali… tp ceritanya bagusss!!! dpt inspirasi dr mana neh?? 😀

  31. bedh Says:

    •joyo
    huhuu sepertinya selera kita sama nih :mrgreen:

    •Sayap KU
    ade bikin gw seperti punya sayap, jadi terbang gini soalnya
    huhuhuhuhuhu

    •Praditya
    yah 11 13 lah ma rona huhuhuhu

    •akafuji
    blognya bagus sih jadi nggak nahan wat ngasih comment
    huhuhu

    •Ina
    makasih, sepertinya sih begitu. gw gak begitu menikmati membuat cerpen. mungkin biar orang lain aja. ato lo aja gimana?
    saya rasa lo juga punya bakat.

    •nane
    huhuu cuma mulung di jalan kok nane, mencoba bermain-main dengan imajinasi.

  32. bayu Says:

    eh mantap dang,..
    skill kalilah si abed neh,..
    kalo kau ce pasti aku nikahin bed,..
    sambunglah woi!!
    aku bilang wak aji kau nti’!!
    ————————————-

    Request review Marie Digby – Spell dong bed!!

  33. bedh Says:

    •bayu
    mada kali kau ni bay.
    😆


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: